Pages

Rabu, 25 Januari 2012

Makalah Bahasa Arab, SISTEM WACANA BAHASA ARAB DAN BAHASA INDONESIA



 

 Oleh Kelompok 11 :
1. Agung Budiono (085854823423)
2. Mohammad Ayyub Khant ( 10110131 )
3. Mudiyono ( 10110045 )
4. Siti Aminah ( 10110068 )
  
   I K I P  P G R I  B O J O N E G O R O
2012


KATA PENGANTAR

Pertama kami panjatkan rasa puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan inayah - Nya kepada kami sehingga makalah ini dapat dikerjakan dengan lancar dan baik.
Makalah ini dikerjakan untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Arab. Makalah ini dapat tersusun dengan baik karena tidak lepas dari bantuan semua pihak, untuk itu kami mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada :
1.    Bapak Drs. Masrukin, M. Pd. Selaku Dosen Mata Kuliah Bahasa Arab
2.    Kepada teman - teman yang telah memberikan motivasi, bantuan baik langsung maupun tidak langsung sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini sampai selesai.
Sehubungan dengan adanya bantuan tersebut, kami berdoa semoga amal perbuatannya diterima Allah SWT dan dijadikan amal sholeh.
    Walaupun makalah ini telah diselesaikan dengan baik, namun penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu kami mengharap adanya kritik dan saran yang konstruktif demi kesempurnaan makalah ini. Akhirnya kami berharap semoga makalah ini dapat berguna khususnya bagi penulis sendiri dan umumnya bagi semua pihak yang membaca.






                                 Bojonegoro, 9 Januari 2012



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL                                         i
KATA PENGANTAR                                    ii
DAFTAR ISI                                                            iii
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………………...1
1.1    Latar Belakang…………………………………………………………………1
1.2    Rumusan Masalah……………………………………………………………...1
1.3    Tujuan Penulisan……………………………………………………………….1
BAB II KAJIAN PUSTAKA………………………………………………………………..2
    2.1   Pengertian Sistem Wacana Bahasa Arab……………………………………………...2
    2.2   Wacana Bahasa Arab…………………………………………………………..2
    2.3   Wacana Bahasa Indonesia……………………………………………………..5
2.4   Syaratan Terbentuknya Wacana……………………………………………….6
2.5   Struktur Wacana……………………………………………………………….6
2.6      Jenis - Jenis Wacana…………………………………………………………...8
2.7   Konteks Wacana……………………………………………………………….9
2.8   Perbedaan dan Persamaan Wacana Bahasa Arab dengan Bahasa Indonesia…10

BAB III PEMBAHASAN………………………………………………………………….11
BAB IV PENUTUP………………………………………………………………………..12
    4.1   Kesimpulan…………………………………………………………………...12
    4.2   Saran………………………………………………………………………….12
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………...13


BAB I  PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang
Dewasa ini banyak sekali orang yang tidak mengerti akan proses terbentuknya sebuah wacana. Padahal tidak mudah di dalam menyusun sebuah wacana. Karena wacana tersusun atas rangkaian kalimat atau rangkaian ujaran (meskipun wacana dapat berupa satu kalimat atau ujaran). Wacana yang berupa rangkaian kalimat atau ujaran harus mempertimbangkan prinsip-prinsip tertentu, prinsip keutuhan (unity) dan kepaduan (coherent).
Akan tetapi kenyataannya sekarang orang lebih mementingkan isi dan manfaat dari wacana yang mereka baca atau buat, bukannya belajar tentang bagaimana cara membuat wacana yang baik dan benar menurut kaidah yang sudah ditetapkan. Untuk itu perlu diadakan pelatihan bagi mereka yang berbakat dalam menulis cerita atau karangan. Terlebih bagi mereka yang berprofesi sebagai seorang guru bahasa.

1.2     Rumusan Masalah
-     Apakah pengertian Wacana?
-     Bagaimanakah proses terbentuknya wacana dalam Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia?

1.3     Tujuan Penulisan

-    Untuk mengetahui arti dari Wacana.
-    Ingin mengetahui proses terbentuknya wacana dalam Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia.





BAB II  KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Sistem Wacana Bahasa Arab
a. Pengertian Sistem
Sistem berasal dari bahasa Latin (systēma) dan bahasa Yunani (sustēma) adalah suatu kesatuan yang terdiri komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi atau energi
b. Pengertian Wacana
Wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain sehingga membentuk kesatuan.
c. Pengertian Bahasa Arab
Bahasa Arab (اللغة العربية al-lughah al-‘Arabīyyah, atau secara ringkas عربي ‘Arabī) adalah salah satu bahasa Semitik Tengah, yang termasuk dalam rumpun bahasa Semitik dan berkerabat dengan bahasa Ibrani dan bahasa-bahasa Neo Arami.
    Jadi Pengertian Sistem Wacana Bahasa Arab adalah Suatu kesatuan / rentetan kalimat dalam Bahasa Arab yang saling berkaitan antara proposisi yang satu dengan lain sehingga membentuk kesatuan yang padu dan utuh.

2.2 Wacana Bahasa Arab
Wacana bahasa Arab terdiri atas :
1.    Fi’il (kata kerja)
2.    Isim (kata benda)
3.    Huruf yang memiliki makna
1.     Fi’il (الفعل ِ)
Al Fi’lu atau fi’il secara bahasa memiliki makna perbuatan atau kata kerja. Sedangkan menurut istilah dalam ilmu nahwu, fi’il adalah kata yang menunjukkan suatu makna yang ada pada zatnya serta terkait dengan waktu. Fi’il itu ada tiga:
1.    Fi’il Madhi (فعل الماضي)
2.    Fi’il Mudhori’ (فعل المضارع)
3.    Fi’il Amar (فعل الامر)
Penjelasan:
1.    Fi’il Madhi adalah kata kerja untuk masa lampau atau dalam istilah bahasa inggrisnya adalah past tense yang memiliki arti telah melakukan sesuatu. Contohnya: قَامَ (telah berdiri) atau جَلَسَ (telah duduk).
2.    Fi’il Mudhari’ adalah kata kerja yang memiliki arti sedang melakukan sesuatu atau dalam istilah bahasa inggrisnya present continues tense. Contohnya: يَقُوْمُ (sedang berdiri) atau يَجْلِسََُ (sedang duduk).
3.    Fi’il Amar adalah kata kerja untuk perintah. Contohnya قُمْ (bangunlah!) atau اِجْلِسْ(duduklah!).
2.     Isim (ألاِسْمُ)
Isim secara bahasa memiliki arti yang dinamakan atau nama atau kata benda. Sedangkan menurut ulama nahwu, isim adalah kata yang menunjukkan suatu makna yang ada pada zatnya akan tetapi tidak berkaitan dengan waktu. Isim itu terbagi-bagi menjadi beberapa jenis yang bisa dikelompokkan sesuai dengan kelompoknya. Karena isim banyak sekali, maka kita tidak membahasnya disini. Akan tetapi, untuk memberi pengertian dasar tentang isim, maka berikut contohnya: زَيْدٌ artinya Zaid (Isim ‘Alam = nama orang), جََاكَرْتَا artinya Jakarta (nama tempat), هَذَا artinya ini (kata tunjuk), اَنَا artinya saya (kata ganti) dan contoh-contoh yang lain.
Dalam bahasa Arab, membedakan kata benda dengan kata yang lain--seperti kata kerja (fi'il) dan kata sambung (huruf)-- dapat diketahui juga dari adanya tanda-tanda berikut:
•    Jar.  Yakni apabila status i'robnya jar.[2]  Karena hanya isim yang status i'robnya jar. Contoh,في المدرسة. Di sekolah. Kata المدرسة i'robnya jar dengan kasroh dan karena itu pasti isi (kata benda).
•    Tanwin. Contoh, محمدٌ (muhammadun).
•    Jatuh setelah alif lam (أل). Contoh, الحَمْدُ لله
•    Jatuh setelah kata sambung jar (huruf jar) . Contoh, من المدرسة. Kata min (dari) adalah kata penghubung yand disebut dengan huruf jar. Kata Al Madrosati adalah isim karena jatuh setelah min.
Huruf Jar (حُروفُ الجَر)
1.    من (min) Contoh, مِنَ الجامِعَةِ (Dari kampus)
2.    إلي (ila) Contoh, إلي المَدْرَسَةِ Ke sekolah
3.    عن ('an) Contoh, عَنِ الَمسْألَةِ (dari masalah itu)
4.    علي ('ala) Contoh, عَلَي الِمنْبَرِ (Di atas mimbar)
5.    في (fi) Contoh, فِي الْبَيْتِ (Di rumah)
6.    رب (rubba). Contoh, رُبَّ رَجُلٍ كَرِيْمٍ (Semoga lelaki yang baik)
7.    الباء Contoh, بِمُحَمَّدٍ (dengan Muhammad)
8.    الكاف Contoh, محُمَدٌ كَعُمَرَMuhammad seperti Umar
9.    أللامContoh, اَلكِتَابُ لِزَيْدٍ Buku itu milik Zaid.
10.    حُروف القَسَمHuruf (kata sambung) untuk sumpah bermakna "demi". Kata sambung sumpah ada tiga yaitu
1.    الواو (wau). Contoh, وَاللَِه Demi Allah
2.    الباء (ba'). Contoh, بِاللِه Demi Allah
3.    التاء (ta'). Contoh, تَاللِه Demi Allah
3.    Huruf  (الْحَرْفُ)
Huruf secara bahasa memilki arti huruf seperti yang kita kenal dalam bahasa indonesia ada 26 huruf. Sedangkan dalm bahasa arab kita mengenal ada 28 huruf yang kita kenal dengan huruf hijaiyah. Akan tetapi, huruf yang dimaksud disini bukan setiap huruf hijaiyah melainkan huruf hijaiyah yang memiliki arti seperti وَ(dan) فَ(maka) بِ(dengan)لِ (untuk) سَ(akan) كَ(seperti). Adapun huruf-huruf seperti Alif, Ta, Tsa, dan yang lain yang tidak memiliki arti maka tidak dapat menyusun suatu kalimat, melainkan hanya menyusun suatu kata saja.

Bentuk dan jenis huruf bermacam-macam, ada yang disebut dengan huruf mabani dan ada yang disebut dengan huruf ma’ani.

a. Huruf mabani (حَرْفُ مَبَانِي)

Adalah huruf-huruf hijaiyah selain huruf ا و ي , karena ketiga huruf tersebut dikatakan sebagai huruf ilat (حَرْفُ العِلَّةِ) atau huruf penyakit.

b. Huruf ma’ani (حَرْفُ مَعَانِي)

Adalah huruf-huruf yang mempunyai arti
Contoh :
اَوْ     atau
وَ      dan
ثُمََّ      kemudian
اِذَا     ketika
لِ      milik

Jenis-jenis huruf ma’ani bermacam-macam diantaranya :
-  Huruf jar (حرف جَارٍ) yang telah kita bahas pada pelajaran kedua.

-  Huruf qosam (حرف قسم) atau disebut juga huruf sumpah. Huruf qosam ada tiga, yakni و ت ب

Contoh :

وَاللهِ – بِاللهِ – تَاللهِ         (demi Allah)

Namun, dari ketiga huruf sumpah di atas, huruf ت hanya boleh digunakan untuk sumpah atas nama Allah ta’ala, adapun huruf yang lainnya boleh digunakan untuk selain nama Allah ta’ala.

c. Huruf athof     (حرف العطف)

Adalah huruf yang digunakan untuk menggabungkan dua kata.

Contoh :

و (dan) misal جَاءَ مُحَُّمَدٌ وَ حَسَنَ      (Muhammad dan Hasan datang)

او (atau) misal ضَرَبَ حَسَنٌ كلَْبًا اَوْ قِطًا     (Hasan memukul anjing atau kucing)

ثم (kemudian) misal مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ شِئْتَ    (atas kehendak Allah kemudian kehendakmu)

Dari penjelasan di atas, kita tahu bahwa ada huruf yang mempunyai fungsi yang berbeda-beda sesuai dengan letak dan kedudukan dalam kalimat, seperti huruf و , disisi lain ia bisa sebagai huruf athof dan disisi lain dia bisa menjadi huruf qosam. Untuk mengetahuinya dapat dilihat dari arti atau kontek kalimat yang digunakan.

Selanjutnya untuk unsur terbentuk dan jenisnya, wacana Bahasa Arab memiliki kesamaan dengan wacana Bahasa Indonesia. Seperti yang akan kami jelaskan pada bab selanjutnya.

2.3 Wacana Bahasa Indonesia
Wacana merupakan satuan bahasa di atas tataran kalimat yang digunakan untuk berkomunikasi dalam konteks sosial. Satuan bahasa itu dapat berupa rangkaian kalimat atau ujaran. Wacana dapat berbentuk lisan atau tulis dan dapat bersifat transaksional atau interaksional. Dalam peristiwa komunikasi secara lisan, dapat dilihat bahwa wacana sebagai proses komunikasi antarpenyapa dan pesapa, sedangkan dalam komunikasi secara tulis, wacana terlihat sebagai hasil dari pengungkapan ide/gagasan penyapa.




2.4  Syarat Terbentuknya Wacana
Penggunaan bahasa dapat berupa rangkaian kalimat atau rangkaian ujaran (meskipun wacana dapat berupa satu kalimat atau ujaran). Wacana yang berupa rangkaian kalimat atau ujaran harus mempertimbangkan prinsip-prinsip tertentu, prinsip keutuhan (unity) dan kepaduan (coherent).
Wacana dikatakan utuh apabila kalimat-kalimat dalam wacana itu mendukung satu topik yang sedang dibicarakan, sedangkan wacana dikatakan padu apabila kalimat - kalimatnya disusun secara teratur dan sistematis, sehingga menunjukkan keruntututan ide yang diungkapkan.

2.5 Struktur Wacana
    a. Elemen - elemen Wacana
Elemen-elemen wacana adalah unsur-unsur pembentuk teks wacana. Elemen-elemen itu tertata secara sistematis dan hierarkis. Berdasarkan nilai informasinya ada elemen inti dan elemen luar inti. Elemen inti adalah elemen yang berisi informasi utama, informasi yang paling penting. Elemen luar inti adalah elemen yang berisi informasi tambahan, informasi yang tidak sepenting informasi utama.
Berdasarkan sifat kehadirannya, elemen wacana terbagi menjadi dua kategori, yakni elemen wajib dan elemen manasuka. Elemen wajib bersifat wajib hadir, sedangkan elemen manasuka bersifat boleh hadir dan boleh juga tidak hadir bergantung pada kebutuhan komunikasi.
b. Relasi Antarelemen dalam Wacana
Ada berbagai relasi antarelemen dalam wacana. Relasi koordinatif adalah relasi antarelemen yang memiliki kedudukan setara. Relasi subordinatif adalah relasi antarelemen yang kedudukannya tidak setara. Dalam relasi subordinatif itu terdapat atasan dan elemen bawahan. Relasi atribut adalah relasi antara elemen inti dengan atribut. Relasi atribut berkaitan dengan relasi subordinatif karena relasi atribut juga berarti relasi antara elemen atasan dengan elemen bawahan.
Relasi komplementatif adalah relasi antarelemen yang bersifat saling melengkapi. Dalam relasi itu, masing-masing elemen memiliki kedudukan yang otonom dalam membentuk teks. Dalam jenis ini tidak ada elemen atasan dan bawahan.
c. Struktur Wacana
Struktur wacana adalah bangun konstruksi wacana, yakni organisasi elemen-elemen wacana dalam membentuk wacana. Struktur wacana dapat diperikan berdasarkan peringkat keutamaan atau pentingnya informasi dan pola pertukaran. Berdasarkan peringkat keutamaan informasi ada wacana yang mengikuti pola segitiga tegak dan ada wacana yang mengikuti pola segitiga terbalik.
d. Referensi dan Inferensi Wacana
Referensi dalam analisis wacana lebih luas dari telaah referensi dalam kajian sintaksis dan semantik. Istilah referensi dalam analisis wacana adalah ungkapan kebahasaan yang dipakai seorang pembicara/penulis untuk mengacu pada suatu hal yang dibicarakan, baik dalam konteks linguistik maupun dalam konteks nonlinguistik. Dalam menafsirkan acuan perlu diperhatikan, (a) adanya acuan yang bergeser, (b) ungkapan berbeda tetapi acuannya sama, dan (c) ungkapan yang sama mengacu pada hal yang berbeda.
Inferensi adalah membuat simpulan berdasarkan ungkapan dan konteks penggunaannya. Dalam membuat inferensi perlu dipertimbangkan implikatur. Implikatur adalah makna tidak langsung atau makna tersirat yang ditimbulkan oleh apa yang terkatakan (eksplikatur).
e. Kohesi dan Koherensi Wacana
Istilah kohesi mengacu pada hubungan antarbagian dalam sebuah teks yang ditandai oleh penggunaan unsur bahasa sebagai pengikatnya. Kohesi merupakan salah satu unsur pembentuk koherensi. Oleh sebab itu, dalam sebuah teks koherensi lebih penting dari kohesi. Namun bukan berarti kohesi tidak penting, Jenis alat kohesi ada tiga, yaitu substitusi, konjungsi, dan leksikal.
Koherensi adalah kepaduan gagasan antarbagian dalam wacana. Kohesi merupakan salah satu cara untuk membentuk koherensi. Cara lain adalah menggunakan bentuk-bentuk yang mempunyai hubungan parataksis dan hipotaksis (parataxis and hypotaxis). Hubungan parataksis itu dapat diciptakan dengan menggunakan pernyataan atau gagasan yang sejajar (coordinative) dan subordinatif. Penataan koordinatif berarti menata ide yang sejajar secara beruntun.



2.6 Jenis - Jenis Wacana
a. Wacana Lisan dan Tulis
Berdasarkan saluran yang digunakan dalam berkomunikasi, wacana dibedakan atas wacana tulis dan wacana lisan. Wacana lisan berbeda dari wacana tulis. Wacana lisan cenderung kurang terstruktur (gramatikal), penataan subordinatif lebih sedikit, jarang menggunakan piranti hubung (alat kohesi), frasa benda tidak panjang, dan berstruktur topik-komen. Sebaliknya wacana tulis cenderung gramatikal, penataan subordinatif lebih banyak, menggunakan piranti hubung, frasa benda panjang, dan berstruktur subjek-predikat.

b. Wacana Monolog, Dialog, dan Polilog
Berdasarkan jumlah peserta yang terlibat pembicaraan dalam komunikasi, ada tiga jenis wacana, yaitu wacana monolog, dialog, dan polilog. Bila dalam suatu komunikasi hanya ada satu pembicara dan tidak ada balikan langsung dari peserta yang lain, maka wacana yang dihasilkan disebut monolog. Dengan demikian, pembicara tidak berganti peran sebagai pendengar. Bila peserta dalam komunikasi itu dua orang dan terjadi pergantian peran (dari pembicara menjadi pendengar atau sebaliknya), maka wacana yang dibentuknya disebut dialog. Jika peserta dalam komunikasi lebih dari dua orang dan terjadi pergantian peran, maka wacana yang dihasilkan disebut polilog.

c. Wacana Deskripsi, Eksposisi, Argumentasi, Persuasi dan Narasi
Dilihat dari sudut pandang tujuan berkomunikasi, dikenal ada wacana dekripsi, eksposisi, argumentasi, persuasi, dan narasi. Wacana deskripsi bertujuan membentuk suatu citra (imajinasi) tentang sesuatu hal pada penerima pesan. Aspek kejiwaan yang dapat mencerna wacana narasi adalah emosi. Sedangkan wacana eksposisi bertujuan untuk menerangkan sesuatu hal kepada penerima agar yang bersangkutan memahaminya. Wacana eksposisi dapat berisi konsep-konsep dan logika yang harus diikuti oleh penerima pesan. Oleh sebab itu, untuk memahami wacana eksposisi diperlukan proses berpikir. Wacana argumentasi bertujuan mempengaruhi pembaca atau pendengar agar menerima pernyataan yang dipertahankan, baik yang didasarkan pada pertimbangan logika maupun emosional. Untuk mempertahankan argumen diperlukan bukti yang mendukung.
Wacana persuasi bertujuan mempengaruhi penerima pesan agar melakukan tindakan sesuai yang diharapkan penyampai pesan. Untuk mernpengaruhi ini, digunakan segala upaya yang memungkinkan penerima pesan terpengaruh. Untuk mencapai tujuan tersebut, wacana persuasi kadang menggunakan alasan yang tidak rasional. Wacana narasi merupakan satu jenis wacana yang berisi cerita. Oleh karena itu, unsur-unsur yang biasa ada dalam narasi adalah unsur waktu, pelaku, dan peristiwa.

2.7     Konteks Wacana

a.    Hakikat Konteks
Konteks adalah benda atau hal yang berada bersama teks dan menjadi lingkungan atau situasi penggunaan bahasa. Konteks tersebut dapat berupa konteks linguistik dan dapat pula berupa konteks ekstralinguistik. Konteks linguistik yang juga berupa teks atau bagian teks dan menjadi lingkungan sebuah teks dalam wacana yang sama dapat disebut konteks ekstralinguistik berupa hal-hal yang bukan unsur bahasa, seperti partisipan, topik, latar atau setting (tempat, waktu, dan peristiwa), saluran (bahasa lisan atau tulis), bentuk komunikasi (dialog, monolog, atau polilog)
Pengguna bahasa harus memperhatikan konteks agar dapat menggunakan bahasa secara tepat dan menentukan makna secara tepat pula. Dengan kata lain, pengguna bahasa senantiasa terikat konteks dalam menggunakan bahasa. Konteks yang harus diperhatikan adalah konteks linguistik dan konteks ekstralinguistik.
b.    Macam - macam Konteks
Konteks adalah sesuatu yang menyertai atau yang bersama teks. Secara garis besar, konteks wacana dibedakan atas dua kategori, yakni konteks linguistik dan konteks ekstralinguistik.
-    Konteks linguistik adalah konteks yang berupa unsur-unsur bahasa. Konteks linguistik itu mencakup penyebutan depan, sifat kata kerja, kata kerja bantu, dan proposisi positif.
Di samping konteks ada juga koteks. Koteks adalah teks yang berhubungan dengan sebuah teks yang lain. Koteks dapat pula berupa unsur teks dalam sebuah teks.Wujud koteks bermacam-macam, dapat berupa kalimat, pargraf, dan bahkan wacana.
-    Konteks ekstralinguistik adalah konteks yang bukan berupa unsur-unsur bahasa. Konteks ekstralinguistik itu mencakup praanggapan, partisipan, topik atau kerangka topik, latar, saluran, dan kode. Partisipan adalah pelaku atau orang yang berpartisipasi dalam peristiwa komunikasi berbahasa. Partisipan mencakup penutur, mitra tutur. dan pendengar. Latar adalah tempat dan waktu serta peristiwa beradanya komunikasi. Saluran adalah ragam bahasa dan sarana yang digunakan dalam penggunaan wacana. Kode adalah bahasa atau dialek yang digunakan dalam wacana.

2.8 Perbedaan dan Persamaan Wacana Bahasa Arab dengan Bahasa Indonesia
    Perbedaan wacana Bahasa Arab dengan Bahasa Indonesia terletak pada pemakaian huruf pada masing - masing bahasa. Selain itu di dalam Bahasa Arab terdapat Fi’il (kata kerja), Isim (kata benda) dan Huruf yang sebenarnya sama dalam Bahasa Indonesia tetapi hanya berbeda nama dan proses pembentukannya.
Persamaannya adalah Penggunaan bahasa yang berupa rangkaian kalimat atau rangkaian ujaran (meskipun wacana dapat berupa satu kalimat atau ujaran). Selain itu dalam meyusunan rangkaian kalimat atau ujaran harus mempertimbangkan prinsip-prinsip tertentu, prinsip keutuhan (unity) dan kepaduan (coherent).






BAB III  PEMBAHASAN
3.1   Apakah pengertian Wacana?
Wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain sehingga membentuk kesatuan.


3.2 Bagaimanakah proses terbentuknya wacana dalam Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia??
    Proses terbentuknya wacana dapat berupa rangkaian kalimat atau rangkaian ujaran (meskipun wacana dapat berupa satu kalimat atau ujaran). Wacana yang berupa rangkaian kalimat atau ujaran harus mempertimbangkan prinsip-prinsip tertentu, prinsip keutuhan (unity) dan kepaduan (coherent).
Wacana dikatakan utuh apabila kalimat-kalimat dalam wacana itu mendukung satu topik yang sedang dibicarakan, sedangkan wacana dikatakan padu apabila kalimat - kalimatnya disusun secara teratur dan sistematis, sehingga menunjukkan keruntututan ide yang diungkapkan.












BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain sehingga membentuk kesatuan.

Perbedaan wacana antara Bahasa Arab dengan Bahasa Indonesia terletak pada pemakaian huruf pada masing - masing bahasa. Selain itu di dalam Bahasa Arab terdapat Fi’il (kata kerja), Isim (kata benda) dan Huruf yang sebenarnya sama dalam Bahasa Indonesia tetapi hanya berbeda nama dan proses pembentukannya.
Persamaannya adalah Penggunaan bahasa yang berupa rangkaian kalimat atau rangkaian ujaran (meskipun wacana dapat berupa satu kalimat atau ujaran). Selain itu dalam meyusunan rangkaian kalimat atau ujaran harus mempertimbangkan prinsip-prinsip tertentu, prinsip keutuhan (unity) dan kepaduan (coherent).
   
4.2 Saran
Sebelum membuat wacana hendaknya kita harus mengetahui prinsip – prinsip atau unsur – unsure yang terdapat dalam sebuah wacana. Baru nantinya kita dapat membuat wacana yang baik dan benar. Untuk itu diperlukan adanya latihan dan sering membaca.









DAFTAR PUSTAKA

1.    http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem
2.    http://id.wikibooks.org/wiki/Bahasa_Indonesia/Wacana
3.    http://kamus.javakedaton.com/
4.    http://www.google.co.id/tanya/thread?tid=07f4f0efbf44fd1e
5.    http://pustaka.ut.ac.id/website/index.php?Itemid=75&catid=30:fkip&id=164:pbin-4216- wacana-bahasa-indonesia&option=com_content&view=article
lainya 
6.    http://www.docstoc.com/docs/26069360/macam-macam-wacana
7.    http://massofa.wordpress.com/2008/01/14/kajian-wacana-bahasa-indonesia/
Posted on 14 Januari 2008 by Pakde sofa
8.    Buku Wacana Bahasa Indonesia, karya Suparno dan Martutik
9.    http://ya2punya.multiply.com/journal/item/5?&show_interstitial=1&u=%2Fjourn al%2Fitem
10.    http://yuhana.wordpress.com/2009/05/27/jenis-jenis-kata-dalam-bahasa-arab/
11.    http://ryper.blogspot.com/2009/11/pelajaran-4-huruf-dan-isim-dhomir.html









Sistem Wacana Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia
A.Sistem Wacana Bahasa Arab adalah Suatu kesatuan / rentetan kalimat dalam Bahasa Arab yang saling berkaitan antara proposisi yang satu dengan lain sehingga membentuk kesatuan yang padu dan utuh.
- Wacana bahasa Arab terdiri atas : Fi’il (kata kerja), Isim (kata benda) dan Huruf.
1.    Fi’il (الفعل ِ), Al Fi’lu atau fi’il secara bahasa memiliki makna perbuatan atau kata kerja.
2.    Isim (ألاِسْمُ), Isim secara bahasa memiliki arti yang dinamakan atau nama atau kata benda.   Contoh  من : (min) مِنَ الجامِعَةِ (Dari kampus)
3.    Huruf  (الْحَرْفُ), Huruf  dalam bahasa arab kita mengenal ada 28 huruf yang kita kenal dengan huruf hijaiyah. Akan tetapi, huruf yang dimaksud disini bukan setiap huruf hijaiyah melainkan huruf hijaiyah yang memiliki arti seperti وَ(dan) فَ(maka) بِ(dengan)لِ (untuk) سَ(akan) كَ(seperti).
Bentuk dan jenis huruf bermacam-macam, ada yang disebut dengan huruf mabani dan ada yang disebut dengan huruf ma’ani.

a. Huruf mabani (حَرْفُ مَبَانِي) b. Huruf ma’ani (حَرْفُ مَعَانِي)                                                                                                                       c. Huruf athof     (حرف العطف)
B.Wacana Bahasa Indonesia
Penggunaan bahasa dapat berupa rangkaian kalimat atau rangkaian ujaran (meskipun wacana dapat berupa satu kalimat atau ujaran). Wacana yang berupa rangkaian kalimat atau ujaran harus mempertimbangkan prinsip-prinsip tertentu, prinsip keutuhan (unity) dan kepaduan (coherent).
- Struktur Wacana
a. Elemen - elemen Wacana b. Relasi Antarelemen dalam Wacana c. Struktur Wacana d. Referensi dan Inferensi Wacana e. Kohesi dan Koherensi Wacana
- Jenis - Jenis Wacana
a. Wacana Lisan dan Tulis b. Wacana Monolog, Dialog, dan Polilog c. Wacana Deskripsi, Eksposisi, Argumentasi, Persuasi dan Narasi
-  Perbedaan dan Persamaan Wacana Bahasa Arab dengan Bahasa Indonesia
Perbedaan wacana Bahasa Arab dengan Bahasa Indonesia terletak pada pemakaian huruf pada masing - masing bahasa. Selain itu di dalam Bahasa Arab terdapat Fi’il (kata kerja), Isim (kata benda) dan Huruf yang sebenarnya sama dalam Bahasa Indonesia tetapi hanya berbeda nama dan proses pembentukannya. Persamaannya adalah Penggunaan bahasa yang berupa rangkaian kalimat atau rangkaian ujaran (meskipun wacana dapat berupa satu kalimat atau ujaran). Selain itu dalam meyusunan rangkaian kalimat atau ujaran harus mempertimbangkan prinsip-prinsip tertentu, prinsip keutuhan (unity) dan kepaduan (coherent).

0 komentar:

Poskan Komentar